Blue Fire Pointer AIRPLANE IN THE SKY

Rabu, 23 Agustus 2017

Perihal Kebetulan dan Mindset Positif

"Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, seorang ilmuwan akan mencari pola, dan seorang beriman akan mencari Tuhan".
Demikian Ayu Utami dalam novel Manjali dan Cakrabirawa.

Akhir-akhir ini saya sering berjumpa dengan "kebetulan". Paling sederhana, saat memasuki -pusat perbelanjaan yang terkenal memiliki kapasitas kecil untuk lahan parkir-, saya selalu bisa mendapatkan parkir di depan. Saat mencari barang yang jarang dijual, saya justru menemukannya di toko pertama yang saya kunjungi secara random. Begitu pula saat bimtek, saya tidak membawa laptop sesuai spesifikasi yang disyaratkan, tiba-tiba ada teman yang bawa 2 laptop.

Menyenangkan memang, jika kebetulan yang menghampiri itu membawa hal-hal positif yang menakjubkan. Sekurangnya ungkapan Alhamdulillah sebagai bentuk syukur paling minimalis. Namun bagaimana jika -kebetulan yang kita hadapi- membawa stimulus negatif dan berbau hal-hal yang tidak diharapkan?

Saya teringat masa di sebuah workshop, yang dihadiri oleh orang-orang yang sebagian besarnya tidak menghendaki berada di ruangan itu, namun kebetulan ditunjuk pimpinan mewakili kantor masing-masing. Ketua panitia dalam pembukaan sambutannya mengatakan bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini, pun pertemuan kita. Daripada sibuk mengeluh dan menjengkel, lebih baik menikmati, mengambil hikmah dan pelajaran berharganya. Toh sama-sama harus dijalani. Mau menjalani dengan hati dongkol atau dengan bergembira?

Saya bukan ilmuwan dan tidak berani meng-aku-kan sosok beriman pula. Hanya sedang menjalani setiap kebetulan dengan afirmasi.

Jumat, 11 Agustus 2017

Sedikit Celoteh "Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan"

Siapa yang tidak familiar dengan lagu "Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan". Liriknya yang sarat akan makna tersirat, membuat banyak pendengar berusaha menebak-nebak. Lihat saja di mesin pencarian itu, berapa banyak laman untuk menerjemahkan lagu yang teduh ini.

"Hanya ada sedikit bintang malam ini, mungkin karena kau sedang cantik-cantik nya".
Hanya ada satu kata, meleleh. Dengar, kan? Pesonamu, menerangi semesta. Gombal yang berkelas.

"Lho, kok gitu maknanya?"
"Suka-suka saya donk! Saya mungkin salah satu penyumbang laman di mesin pencarian itu, wekk!"

Balik lagi ke lirik, secara tak sengaja saya menonton video wawancara dengan Bang Is. Ternyata inspirasi lagu ini bersumber dari istri dan anaknya, yang saat itu tengah tertidur pulas, dengan mulut menganga. Cantik!

😎

Sabtu, 05 Agustus 2017

Cerita Anak Rantau yang Kehilangan Ayah


“Semoga anakku yang pemberani,
yang jauh merantau ke negeri-negeri igauan
menemukan jalan untuk pulang;
pun jika aku sudah lapuk dan karatan.
Tapi tubuh  sudah begitu jauh mengembara.
Kalaupun sekali datang hanya untuk menabung luka.
Dan ketika akhirnya pulang ia sudah mayat tinggal rangka.”
Joko Pinurbo

Pagi ini saya dibangunkan oleh kabar duka dari seorang teman, 22 tahun, yang baru saja kehilangan ayahnya.  Kemarin lusa ia sudah mendarat di kampung halamannya, sebuah kota di Jawa Timur, untuk melihat sang ayah yang sedang terbaring lemah. Menempuh 2 (dua) kali perjalanan dengan pesawat terbang ditambah jalan darat, ia mendampingi ayahnya di deru nafas terakhir, denyut nadi penutupan.

Lain cerita dengan teman saya yang satunya lagi, kala itu 24 tahun. Dengan pedih, jarak hanya mampu mempertemukannya dengan sekumpulan orang-orang yang sedang yasinan, karena ia tiba keesokan harinya setelah sang ayah dikebumikan. Kepada jenazah ayahnya yang tak pernah ia lihat, ia hanya bisa memanjatkan doa.

Anak rantau, kalian kuat! Negara memang tak membayar lebih untuk jarak. Tapi pengabdian kalian sudah sampai tahap memahami, bahwa rindu tak selalu bermuara kata pulang. Perjuangan kalian di sini, akan membuat sang ayah bangga di sana.