Blue Fire Pointer AIRPLANE IN THE SKY: KISAHKU
Tampilkan postingan dengan label KISAHKU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAHKU. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 September 2018

Saya Datang

Chat Salah Satu Kuasa Tergugat KPP Pratama
"Feb, kamu datang, kan?"
"Iya, saya datang."

Sebuah jawaban yang menenangkan bagi mereka, KPP Pratama yang sedang digugat di pengadilan.

Inilah salah satu hal yang membuat saya baper sama kenangan di Subbagian Advokasi, Pelaporan, dan Kepatuhan Internal Kanwil DJP Sumatera Barat dan Jambi. Hari ini hari terakhir saya bertugas di sini. Amanah baru menanti. Target penerimaan pajak sebentar lagi di pundak.

"Feb, kamu datang, kan?"
"Iya, saya datang."

Di depan KPP Pratama Padang Dua.

Minggu, 11 Maret 2018

Februari 2018



Selamat pagi! Selamat datang Februari, lagi! Ucapkan selamat tinggal pada seperempat abad. Terima kasih untuk tahun2 yang luar biasa. Kejutan baru telah menanti. Kali ini, apalagi? 

Pagi hari dimulai dengan adegan adik menyapu wajah kakak dengan kuas andalan. Maklum hasil dandan sendiri masih taraf make-up kantoran. Meskipun tak ada ucapan selamat, mami dan adik-adik menyemangati dan mendoakan acara penting hari ini berjalan lancar. 

Belum begitu terik, saya sudah tiba di Aula KPPN Padang. Ibu-ibu berbaju seragam batik menyambut saya dengan senyum. Beberapa mengajak berkenalan dan berfoto. Gembira sekali rasanya mengawali hari dengan silaturrahmi.

Alhamdulillah acara Dialog Bersama Menteri Keuangan berjalan lancar. Kesempatan untuk membuka HP usai acara. Ucapan dari lingkungan DJP mengalir. Justru yang pertama kali mengucapkan adalah mantan kepala seksi saya, Pak Ambar, yang sekarang penempatan di Jakarta. Masih ingat saja, Pak. Adapula wapri dari mantan Kakanwil, Pak Teguh, bertambah semangat saya.

Tak luput ucapan Cicak and Friends sejak Februari 2010 sampai sekarang. Mereka juga mengabarkan info bahwa kadonya sudah disiapkan sesuai permintaan. Tradisi kami, yang berulang tahun bisa request kado. Seru kan!?

Menginjak sore hari di ruang kerja Bagian Umum, sebuah telepon dari Upi menghantarkan saya ke depan pintu masuk Bidang PPIP. Beberapa teman pelaksana dan fungsional mengucapkan selamat diiringi doa. Cukup lama saya bercanda ria dengan teman-teman, tiba-tiba muncul sosok yang entah datang dari kolong meja atau dari balik partisi. Siapa dia??? Kak Eghy!!! Yey!!! Spesial sekali kakak yang sudah mutasi ke KPP ini datang ke Kanwil sambil membawakan kue red velvet favorit saya. Terharu bener daaahhh…

Lepas maghrib, saya menempuh perjalanan ke Bukittinggi  karena esok hari ada agenda sosialisasi. Tiba di hotel pukul 22.00 WIB, Dahlia menelepon saya dan meminta untuk berkunjung ke kamarnya. Ketika pintu kamar terbuka, kue Minang Mandeh yang ditusuk dengan lilin-lilin bercahaya dihadapkan ke depan wajah saya. Wuaaaaa… Sweet banget sahabat saya ini. Benar-benar penutup hari yang manis.

MC Dialog Bersama Menteri Keuangan



 
Foto Bersama Menteri, Dirjen, Staf Ahli, dan Pegawai pada Unit Eselon I Direktorat Jenderal Pajak

MC (Pak Muttaqin dan Febby Mellisa)

Selamat pagi. Usai Subuh kali ini, alih-alih menarik selimut kembali, cermin di depan itu menuntut perhatian lebih. Ingin dipandangi lebih lama katanya. Lihatlah pipi merah merona, lipstik merah ceria, alis melengkung tebal, topeng? Terkadang untuk sebuah momen, kita harus manut pada standardisasi kecantikan, bukan?  Apalagi ini hari spesial.
----------

“Selamat datang, Menteri Keuangan Republik Indonesia, Ibu Sri Mulyani Indrawati!”
Gemuruh! semua berdiri sembari bertepuk tangan menyambut kedatangan orang nomor wahid di kementerian ini. Piring menadah, payung mengembang. Para penari mengambil tempat dan siap menghibur puluhan pasang mata di depannya.

Tangan kiri memegang kertas rundown acara, tangan kanan memegang mic. Duo MC bersiap untuk menyapa hadirin. Alamak! Kertas yang saya pegang berguncang, mengikuti degupan jantung empunya. Secepat mungkin saya turunkan tangan yang “bermasalah” itu. Wajah menatap yakin ke depan dan berusaha melafalkan kata-kata tanpa teks. Beruntungnya pasangan MC saya tegar sekali. Memang untuk acara sebesar ini, saya tak sanggup sendirian.
----------

Ngomong-ngomong, ini adalah pertemuan kedua saya dengan Ibu Menteri, setelah Kemenkeu Muda pada November 2017 lalu di Jakarta. Siapa sangka akan bertemu lagi? Ketika diawarkan menjadi MC, saya hanya bisa ragu dan gugup. Justru mereka yang meyakinkan kalau saya bisa melakukannya. Kali ini saya ditemani oleh salah seorang pejabat eselon IV dari KPP Pratama Solok, Pak Muttaqin.

H-1 pukul 15.00 WIB, saya diundang mengikuti rapat persiapan acara di KPPN Padang. Saya berdiskusi langsung dengan panitia pusat terkait rundown acara, dekorasi ruangan, pakaian, undangan, dan sebagainya. Berdasarkan rundown acara, saya diminta untuk membuatkan naskah MC.

Setelah itu saya bergegas menjemput pakaian adat di tempat persewaan. Kemudian melanjutkan perjalanan ke kantor dan bersiap-siap untuk mengetik naskah MC. Semua kata-kata yang akan diucapkan MC harus dituliskan secara lengkap. 

Mengetik naskah MC cukup memakan waktu karena ada muatan pantun dan pemilihan kata-kata yang sedemikian rupa agar enak didengar dan nuansa formalnya tidak tertinggal. Beruntungnya saat itu saya ditemani oleh Pak Muttaqin yang sangat lihai dan berpengalaman. Mantan pegawai Direktorat P2Humas DJP ini tak perlu diragukan lagi. Setelah rampung, naskah kami kirimkan. Beberapa jam kemudian kami mendapat kiriman balik naskah yang sudah dikoreksi. Banyak bagian yang dipotong sehingga naskah menjadi simpel tetapi pedoman acara tetap tersampaikan.
----------

Untuk bahan sharing, saya terakan naskah MC berikut:

DIALOG BERSAMA MENTERI KEUANGAN

Sesaat lagi, Menteri Keuangan Republik Indonesia akan memasuki ruangan
Hadirin dimohon berdiri
….(tepuktangan)

Selamat datang Menteri Keuangan Republik Indonesia, Ibu Sri Mulyani Indrawati!
(Bu Menteri memasuki ruangan)

(Tari Langgam Rang Mudo)

Sayang kumbang mencari makan
Terbang seiring di tepi kali
Selamat datang kami ucapkan
Moga diiringi restu Illahi

Assalamualaikum Wr Wb
Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua,
-    Yth. Menteri Keuangan Republik Indonesia, Ibu Sri Mulyani Indrawati
-    Yang kami hormati,
·   Direktur Jenderal Perbendaharaan,
·   Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Kepatuhan Pajak,
·   Para Pejabat Eselon II baik pusat maupun daerah,
·   serta hadirin yang berbahagia

Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan YME, atas limpahan karunia-Nya kita dapat berkumpul bersama  di Aula KPPN Padang untuk mengikuti acara Dialog Bersama Menteri Keuangan.

Acara selanjutnya adalah Laporan Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Sumatera Barat, kepada Kepala Kanwil DJPb Provinsi Sumatera Barat, Bapak Ade Rohman, kami silahkan.

Hadirin yang kami hormati,
Acara selanjutnya adalah Arahan Menteri Keuangan dan disambung dengan Dialog.U UntukUitu, kami undang ke atas panggung, Ibu Menteri Keuangan yang akan didampingi oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan dan Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Kepatuhan Pajak.

(Sesi Dialog dan Tanya Jawab)

Kami mohon Ibu Menteri beserta Direktur Jenderal Perbendaharaan dan Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Kepatuhan Pajak untuk tetap berada di atas panggung. Kami undang para pejabat eselon II naik ke atas panggung untuk melakukan sesi foto bersama.

(Kemudian dilanjutkan sesi foto bersama per unit eselon I)

Demikian Bapak dan Ibu hadirin rangkaian acara Dialog bersama Menteri Keuangan. Acara selanjutnya adalah ramah tamah yang akan ditemani oleh Treasury Band, dan dilanjutkan dengan makan siang. Untuk itu, kami mohon undur diri.

Bunga dedap di atas para
Anak dusun pasang pelita
Kalau tersilap tutur bicara
Jemari disusun maaf dipinta

Saya Muttaqin, orang Jawa yang suka makan rendang
Saya Febby Mellisa, ambo asli urang Minang

Wassalamualaikum Wr Wb

Catatan: Sesaat sebelum bahkan sampai pada saat acara berlangsung, terjadi beberapa perubahan susunan acara maupun undangan yang hadir. Protokoler dan MC saling bersinergi.

Jumat, 19 Januari 2018

Menikmati Panorama Indah dari Gunung Padang

Menikmati Panorama Indah

Jumat pagi, cuaca yang sejuk, merupakan paduan yang tepat untuk memulai aktivitas kebugaran. Mendaki gunung menjadi pilihan bagi pegawai Kanwil DJP Sumatera Barat dan Jambi. Dengan menaiki kendaraan secara berkelompok, para pegawai menuju Gerbang Kawasan Wisata Gunung Padang. Lokasi wisata ini tidaklah jauh. Dari bawah Jembatan Siti Nurbaya berbelok ke arah kiri.

Biasanya, pengunjung akan melewati anak tangga yang sangat panjang untuk tiba di puncak. Di sini, setiap pengunjung akan dikenakan tiket masuk sebesar Rp3.000 sampai Rp5.000. Namun kami memilih rute yang berbeda, yaitu berjalan ke arah kiri sampai menemukan titik awal pendakian. Sepanjang perjalanan, terlihat jurang, pepohonan, dan beberapa rumah warga. Kalau dilihat-lihat, jalur ini memang dibuat oleh warga sekitar. Tampak ada tanah yang dibentuk seperti anak tangga kecil-kecil di jalan setapak. Jika hujan turun, daerah ini akan becek dan tentu saja tidak kondusif untuk pendakian.

Jalur menuju Gunung Padang tidaklah terjal. Kendati demikian, waktu tempuh sekitar 20 sampai 30 menit cukup membuat nafas ngos-ngosan bagi yang tidak biasa. Sampai di puncak, takjub sekali rasanya. Birunya Pantai Padang sampai hamparan kota beradu dalam satu pandangan. Menghirup udara sambil -menikmati kuasa Tuhan melalui lukisan alam- menjadi refleksi tersendiri. Ternyata begini perasaan para pendaki gunung yang sudah menjajal berbagai gunung di Indonesia. Panorama indah, persaudaraan, dan penghargaan terhadap usaha.

Ngomong-ngomong soal usaha, tahun 2017 Kanwil DJP Sumatera Barat dan Jambi menduduki peringkat 7 nasional untuk pencapaian penerimaan pajak dengan capaian melebihi 91% dari target Rp9,75 triliun. Tahun 2018 ini, kami mendapat target yang lebih tinggi lagi. Semoga dengan sinergi yang lebih baik, capaian penerimaan dapat mendaki sampai ke puncak target. Aamiin!

Minggu, 14 Januari 2018

Kemenkeu Muda, Momen Pertama Bertemu Sri Mulyani

Tebak saya di mana!
Siapa yang tidak kenal dengan Sri Mulyani. Wanita paling berpengaruh ke-23 di dunia versi Majalah Forbes ini memang kharismatik. Banyak yang mengagumi sosoknya tak terkecuali pegawai Kemenkeu itu sendiri. Saya, tentunya adalah satu dari sekian banyak. 

Jauh Sri Mulyani melanglang buana, berkeliling Indonesia untuk melakukan pemantauan langsung terhadap kinerja anak buahnya di lapangan. Barangkali salah satunya ke kota Padang. Saya, tentunya bukan pegawai yang terlalu penting yang berkesempatan bertemu dengan beliau.

November 2017 lalu, di instagram resmi Kementerian Keuangan, diumumkan bahwa akan diadakan acara Exclusive Forum Bersama Menteri Keuangan yang bertajuk “Merawat Mimpi Lintas Generasi”. Acara ini diadakan oleh sekelompok pegawai Kementerian Keuangan yang bergabung dalam Kemenkeu Muda.  Satu misi mereka, mengumpulkan segenap pegawai muda Kemenkeu dari Sabang sampai Merauke. Kegiatan ini non-APBN, artinya biaya perjalanan dinas peserta tidak dapat dibebankan pada APBN. Saya, tentunya cukup menelan ludah saja.

Buntung bertemu untung, saya mendapatkan tugas untuk mengikuti bimbingan teknis penghitungan nilai kinerja organisasi ke Kantor Pusat DJP, Jakarta. Alhamdulillah! Saya, tentunya merasa sangat beruntung ibarat “pucuk dicinta, tiket pun tiba”.

Pukul 23.00 WIB di hari akhir pendaftaran peserta forum, saya selesai membuat essay dan mengirimkannya. Ya, calon peserta disyaratkan untuk membuat essay dengan tema apa kekurangan Kemenkeu dan bagaimana cara mengatasinya. Beberapa hari setelah batas akhir pendaftaran, saya dikirimkan email berisikan tiket masuk forum. Allahu Akbar! Saya, tentunya… Errghh, maksa!

Usai mengikuti bimbingan teknis, saya bergegas naik taksi yang melintas di depan Kantor Pusat DJP untuk melaju pesat ke Gedung Dhanapala Kemenkeu. Tiba di gedung, saya disambut dengan senyum behel manis Mega Mutia Elza, sahabat yang sekaligus panitia forum. Ruangan telah penuh, saya duduk di belakang. Celingak celinguk tidak ada yang kenal. Tiba-tiba sahabat saya itu mengajak untuk duduk di depan, tepat di belakang jajaran menteri dan eselon I, untuk menemaninya memegang peralatan guna siaran langsung di Facebook. First row! Betul juga kata penyair, “sahabat seperti mercusuar di tengah laut”. Makasih, Ga!

Btw, tulisan ini sangat panjang, sepajang menanti pertemuan dengan Sri Mulyani. Tepuk tangan meriah gemuruh seiring wanita 55 tahun itu memasuki ruangan. Saya yang duduk di first row memandang jelas raut wajah sampai ke aura-aura beliau. Tak hanya cerdas, beliau juga pandai mengguyon. Apa yang dikatakan oleh ibunya Sri Mulyani ketika anaknya dilantik menjadi Menteri Keuangan? “Saya lebih hebat, kamu belum profesor!”  Gelak tawa menggelegar mendengar celoteh tersebut. Sri Mulyani memang berasal dari keluarga terdidik. Kedua orang tuanya dahulu merupakan profesor di Universitas Negeri Semarang.

Satu hal lagi yang saya ingat dari malam itu, jika Sri Mulyani boleh berkata padanya yang masih berusia 25 tahun, ia akan menyampaikan pesan “Jangan sok kepinteran, deh!” Wah, wah, wah, berasa diceramahi ibu sendiri. Usia 25, di mana kita menyadari bahwa masih banyak ilmu yang belum diserap, masih banyak pengalaman yang belum dicecap. Usia 25, usia yang sangat muda untuk bersarangnya kreativitas. Dengan menyadari kekurangan institusi ini, mampu membuat gebrakan untuk memperbaikinya.

Malam 24 November 2017 yang berfaedah, Ananda tiba
dari pulau seberang di sebelah barat Indonesia.

Senin, 01 Januari 2018

Pagi, Baju Bekas, dan Kenangan

Pagi yang mendung boleh saja menjadi alasan untuk menarik selimut, namun  penggalan lirik lagu dari Banda Neira “Bangun, sebab pagi terlalu berharga tuk kita lewati dengan tertidur” mengingatkan untuk tidak bermalas-malasan. Betapa berharganya pagi. Bahkan terjemahan doa bangun pagi “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan hanya kepada-Nya (kami) dikumpulkan”, menggambarkan bahwa syukur sepatutnya terucap saat terjaga. Jika bangun pagi adalah nikmat, maka bangun pagi di permulaan tahun 2018 adalah nikmat dua kali lipat.

Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, pagi ini saya membongkar 4 (empat) lemari baju dan mengelompokkannya menjadi 2 (dua). Kelompok pertama adalah baju yang masih dipakai, sedangkan kelompok kedua adalah baju yang akan dibagikan. Pada mulanya, tidak sulit untuk memisahkan mana baju yang masih saya pakai dan mana yang tidak. Sampai tiba pada baju-baju yang cukup mahal, bagus, dan baru sekali bahkan belum pernah melekat di badan, saya mulai dilema.  Pertanyaannya, apakah saya akan mengambil yang baik untuk saya dan yang “kurang baik” untuk membaginya? Ya Rasul, kalau begini sungguh jauh aku darimu. Memang sudah fitrahnya untuk berat melepaskan sesuatu yang kita sayang. Namun tidak demikian dengan Rasulullah SAW, ia justru memberikan kain indah milikya yang diminta dan disukai oleh seorang pemuda.

Dilema tidak berakhir sampai di sana. Berhadapan dengan sekumpulan baju-baju yang pada setiap helai benangnya ada kenangan, juga merupakan hal yang tidak mudah. Saya pegang satu persatu baju-baju itu, memori masa lalu membawa saya jauh. Ah, biarlah cukup ingatan yang merawat kenangan. 

Selamat Tahun Baru 2018!

Selasa, 12 Desember 2017

Donor Darah Saat Haid, Bolehkah?

Kamu pernah punya pengalaman ditolak saat akan donor darah? Kamu tidak sendirian. Jika penolakan membuatmu takut mencoba lagi, kamu sendirian aja, gak usah ajak-ajak :p

Berbekal pengalaman ditolak dari daftar calon pendonor darah, di tahun berikutnya saya mencoba kembali. Bukan apa-apa, itu popmie nya mengiurkan banget. Paraaaahh!!! Dengan semangat popmie yang diseduh, saya menuju Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Teluk Bayur. Unit vertikal di bawah Kementerian Keuangan mengadakan berbagai kegiatan dalam rangka menyambut Hari Oeang ke-71, salah satunya Donor Darah.

Pertama kita mengisi formlir terlebih dahulu dan menjawab beberapa pertanyaan untuk mengetahui kondisi kesehatan dan riwayat penyakit calon pendonor. Selanjutnya nama kita akan dipanggil berurutan mulai dari formulir yang diletakkan paling awal. Jantung berdegup kencang ketika nama saya dipanggil untuk diperiksa kesehatannya.

“Oke, Febby bisa donor. Hb nya 13, bagus.” ucap dokter yang memeriksa.

Seakan tak percaya, saya berkata “Dokter, saya lagi haid.”

“Gak masalah. Yang masalah itu kalau tidak haid dan tidak mau donor. Yang penting semangat.” Jawab dokter.

Semangat popmie memang tidak bisa diremehkan begitu saja. Dahsyat! Ini akan menjadi sejarah donor darah pertama dalam hidup saya. Tak lama kemudian saya disuruh berbaring. Jarum yang sebesar jarum kasur itu ditusukkan ke lengan kiri saya. Perlahan darah mengalir. Ya, benar perlahan, karena di sebelah kiri saya sudah berganti orang yang ketiga dan saya masih terbaring. Mungkin saya begitu grogi, tangan saya menjadi kaku, entah apa hubungannya yang jelas darah itu lamban sekali menuju kantongnya. Untungnya selama proses mendonor, saya dihibur, direkam, dan difoto oleh teman-teman yang super lucu. Makasi, ya, Gaes :)

Kembali ke judul, bolehkan donor darah saat haid? Boleh bersyarat. Yuk, kita simak penjelasan dari alodokter aja:
  1. Usia 17-60 tahun;
  2. Berat badan >45 kg;
  3. Tidak menderita anemia atau kadar hemoglobin wanita > 12 gr% dan hemoglobin pria > 13 gr%;
  4. Tidak sedang demam atau suhu tubuh 36-37,5 derajat celcius;
  5. Tekanan darah sistol 100-170 mmHg dan diastol 70-100 mmHg;
  6. Denyut nadi teratur 50-100x/menit;
  7. Jarak dengan donor darah sebelumnya minimal 3 bulan;
  8. Tidak menderita penyakit tertentu seperti: HIV, hepatitis, kelainan darah misalnya hemofilia, diabetes, kanker, tekanan darah tinggi, epilepsi, sifilis, pecandu minuman berlakohol;
  9. Tidak dalam kondisi medis tertentu misalnya: 72 jam pasca operasi gigi, 12 bulan pasca operasi besar, wanita hamil dan menyusui;
  10. Apabila dokter yang ada ditempat donor menilai kamu cukup sehat dan kemungkinan besar tidak anemia, mungkin dokter bisa mengijinkan kamu untuk mendonor. Tetapi jika dokter yang memeriksa tidak mengijinkan, lebih baik kamu tunggu dulu hingga selesai menstruasi.
Penjelasannya cukup jelas, kan? Demikian pengalaman saya. Kalau ada kesempatan donor lagi, saya tidak akan memilih mendonor saat haid. Hahaha...



Sabtu, 25 November 2017

Dear, Pak Hakim

"Mengapa tidak jadi petani saja? Saya memohon engkau berhenti. Pagar rumah ini sudah tidak aman. Kita bisa lenyap kapan saja." (Saya)

"Pernah sebuah senapan diacungkan ke hadapan saya. Namun jari telunjuk tak memicu pelatuk. Mengurungkan niat dia. Tenanglah, karena kematian rahasia Tuhan." (Papi)

Belasan tahun silam, saya hanyalah seorang anak kecil yang ketakutan. Bersembunyi di balik punggung ayahnya. Polisi berjaga di sekitar rumah. Massa itu tak jadi datang.

Dear, Pak Hakim. Hari ini menjadi ritual untuk mengenang nasihat-nasihat mu.

Jumat, 06 Oktober 2017

Naik Kereta Api Malang - Yogyakarta



foto oleh Mega Mutia Elza

Stasiun Malang Kotabaru Jumat malam itu disesaki oleh calon penumpang kereta api jurusan Yogyakarta. Saya perlahan-lahan menolehkan wajah ke kiri dan ke kanan, menyapukan pandangan. Kesendirian ini memberikan saya kesempatan untuk memperhatikan banyak hal, mulai dari segerombolan remaja yang saling menertawakan, dua sejoli yang sedang kasmaran, sampai yang seperti saya, sendirian.

Tak lama, kereta api yang ditunggu-tunggu pun tiba. Saya memasuki gerbong ekonomi. Ya, gerbong ekonomi! Saya tidak memiliki pilihan lain saat memesan di waktu yang mepet. Di gerbong ini, seorang penumpang harus duduk bersebelahan tanpa sekat dengan penumpang lainnya, belum lagi di depannya juga ada penumpang lain yang lututnya nyaris menyentuh lutut kita. 

Seorang pria duduk di sebelah saya, mengisi kursi yang telah ia sewa dengan harga Rp175 ribu untuk 7,5 jam ke depan. Beruntungnya, di depan kami belum ada penumpang yang naik sehingga bisa menselonjorkan kaki. Ia membuka percakapan dengan memperkenalkan diri, ternyata kami seumuran. Tidak butuh waktu lama untuk membuat kami akrab. Sepertinya kesendirian juga tidak abadi. Kerongkongan sampai kering saking cerita ini tidak ada habisnya.

Sesekali saya menoleh ke jendela, memperhatikan laju kereta api yang semakin kencang. Di depan mata, stasiun berganti jalan raya, kemudian berganti perumahan, dan berganti rerumputan. Syahdu sekali memandang ke luar meskipun minim cahaya.

Di sebuah stasiun persinggahan, dua penumpang-baru duduk di depan kami. Kaki yang selonjoran ditarik ke arah kolong kursi. Lutut ditekuk agar tidak beradu. Saya mencoba memejamkan mata meski tidak tidur. Mendekati Stasiun Tugu terdengar dentuman musik yang tak asing di telinga, Yogyakarta-nya Kla Project. “Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu”. Aah, meskipun perjalanan pertama ini tidak bisa disebut pulang, namun rindu memanggil saya datang.