Blue Fire Pointer AIRPLANE IN THE SKY

Kamis, 17 Oktober 2013

Cita-Citaku Menjadi Astronot (Bag. I) : Perahu Layar

Oleh: Febby Mellisa

http://4.bp.blogspot.com


Layar berkibar seirama ritme angin. Bintang berserakan menjadi atap perjalanan kami. Ini pengalaman pertamaku ikut memancing ikan bersama ayah. Air begitu tenang saat dilalui oleh perahu kecil kami. Maklum, ayah belum mampu membeli perahu motor, yang tak perlu angin darat untuk menggerakkannya menuju laut.
Sekedar tahu saja, angin bertiup dari daerah yang bertekanan udara tinggi ke daerah yang bertekanan udara rendah. Tekanan udara berbanding terbalik dengan suhu. Mengenai suhu, jika suatu zat memiliki kalor jenis yang besar, berati zat tersebut susah dipanaskan, namun setelah sumber panas dihilangkan, zat tersebut susah didinginkan. Contohnya laut. Sebaliknya, jika suatu zat memiliki kalor jenis yang kecil, berarti zat tersebut gampang dipanaskan, namun setelah sumber panas dihilangkan, zat tersebut gampang dingin kembali. Contohnya tanah dan pepohonan.
Nah, pada siang hari, matahari menyinari permukaan bumi. Daratan segera menjadi panas sementara lautan masih dingin. Inilah sebabnya suhu udara di darat lebih panas daripada suhu udara di laut pada siang hari. Pada malam hari, angin bertiup dari darat ke laut. Karena sumber panas telah hilang, daratan menjadi dingin, sementara air laut masih menyimpan panas. Jangan heran aku bisa menjelaskan panjang lebar begini. Nilai fisika ku tak pernah kurang dari 100!
Namaku Bayu. Aku kelas 1 SMP. Ayahku seorang nelayan tradisional. Ia sangat menyayangiku. Malam ini ayah ingin mengenalkan deburan ombak kepadaku. Aku merasakan aliran Samudera Hindia dari sini. Tak lama kemudian, ayah menebar jala. Perlahan tetapi pasti, ikan-ikan terjaring. Kami terus menyusuri lautan, di titik berikutnya ayah menebar jala lagi, dan ikan-ikan terjaring kembali.
“Ahhh segarnya ikan-ikan ini. Semoga besok laris semua di pasar, ya Yah!” ujarku.
“Mudah-mudahan, Nak. Ayo buru lebih banyak!” kata ayah bersemangat.
            Selagi ayah belum menebar jala, aku menatap angkasa yang luar biasa kilaunya, kumpulan cahaya tanpa batas, penuh misteri. Aku tunjuk satu bintang, bintang paling cerah.
“Yah, tahu tidak nama bintang yang paling cerah di langit malam?” tanyaku.
“Hmm, apa ya? Bintang Kejora kah?” jawab ayah.
“Huuu, ayah asal deh. Oh iya, Bintang Kejora itu sebenarnya bukan bintang lho. Tapi Planet Venus yang tampak bercahaya karena memantulkan sinal matahari. Kalau bintang paling cerah di langit malam disebut Bintang Sirius, Yah.” Jelasku.
“Oo, ayah baru tahu. Eh, ngomong-ngomong bintang apa namanya tadi? Bintang Serius? Hahaha” canda ayah.
“Ayaaaaaaaahhhh!...” cetusku.
            Begitulah, ayah sering sekali menjadi korbanku untuk mendengarkan teori-teori fisika dan astronomi. Tapi ayah terlihat senang, karena aku adalah anak satu-satunya, anak semata wayang. Kelamnya langit perlahan pudar seiring terbit fajar. Aku dan ayah bergantian sholat Subuh di atas perahu. Tentunya tak ada kiblat.
            Matahari menggantikan peran bintang-bintang. Angin laut menghantarkan kami pulang ke daratan. Dari kejauhan terlihat hamparan sawah nan hijau. Bukit nan dipenuhi pepohonan. Tak ada asap maupun limbah pabrik. Desaku memang indah.
*bersambung*

Rabu, 25 September 2013

Pelajaran Berharga Dari Sang Penabrak



Padang (18/9). Pagi yang cerah. Usai melakukan wawancara ke Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Padang bersama Ditya, kami pun berpisah. Ditya pulang ke kontrakannya di Limau Manih. Sedangkan saya menuju kantor pengadilan untuk menjemput mami. Kami berencana akan ke sekolah Fenny (adikku) untuk mengurus suatu hal.
Si Putih melaju dengan mantap. Ia sangat jinak terhadapku yang terkadang menginjak pedal sesuka hati. Namun kali ini aku tidak menginjaknya begitu dalam karena nasihat mami terekam jelas di ingatanku, “Jangan ngebut!”
Di persimpangan, dekat dengan kantor Pengadilan Negeri Jl Khatib Sulaiman, mobil di depanku berjalan pelan karena ia akan berbelok. Maka aku pun mengiringi dengan pelan. Bagaimanapun yang belakang adalah follower.
“Brukkkkk!!!!” Tiba-tiba terdengar suara kencang. Bersyukur aku memakai sabuk pengaman yang membalut tubuhku mengurangi daya hentakan. Orang-orang sekitar melihat ke arahku. “Ya Allah sayakah yang ditabrak?” Benar, mulut Innova menghantam ekor Si Putih. Aku pun lemas dan berjalan pelan. Tampaknya Innova berhasil menambah rentetan panjang goresan Si Putih. Sang pengendara membuka kaca jendelanya dan ia turun. Aku hanya berjalan pelan kemudian berhenti. Daaannn”Huaaaaaaaaaaaaa........ :(” Aku menelpon mami.
“Tok tok tok...” suara kaca jendelaku diketok. “Ibu, maafkan saya. Yah namanya juga kecelakaan. Saya tidak menduga. Saya mengerti perasaan ibu, Saya juga pernah ditabrak. Terserah ibu mau di bawa ke mana. Ke polisi juga tak apa. Saya akan bertanggung jawab. Kalau ibu mau, kita bisa bicarakan ini baik-baik.”
Terdiam... Aku pun turun melihat kemalangan Si Putih. Oh Tuhan, lampu belakang pecah, bemper nyaris patah, pintu belakang penyok dengan beberapa goresan. Walhasil depan belakang cacat. Oh ya, aku sewaktu masih belajar pernah menggesekkan si Putih ke pagar rumah nenek.
Tak berselang lama, mami pun datang. Si Bapak mengaku senantiasa berzikir membawa kendaraan. Ia hanya membawa mobil perusahaan. Tak hanya Si Putih yang cedera. Pintu Innova itu bahkan bergeser. Yah walaupun mulut besinya baik-baik saja.
Sebenarnya terbit rasa iba pada si Bapak yang pensiuan perusahaan tambang ini. Ia bukanlah orang yang berada. Namun ia jujur dan mau bertanggung jawab. Padahal kalau mau lari ia bisa saja. Dari cara berbicara si Bapak pun aku melihat etika tingkat tinggi dalam dirinya. Terlihat ia tak menyalahkanku sedikitpun. Biasanya ada orang yang kalau salah malah mencari-cari kesalahan orang lain.
“Saya akan bertanggung jawab, Bu. Namun saya mohon diringankan,” ucapnya kepada mami dan juga Om Joni yang turut berada di lokasi. Negosiasi berakhir dengan sebuah kesepakatan. Aku hanya terdiam, mengamati sebuah pelajaran berharga.