Blue Fire Pointer AIRPLANE IN THE SKY

Kamis, 16 November 2017

Mengajar Anak-Anak, Menjadi Anak-Anak

“Bagaimana cara mengajar anak-anak? Jadilah anak-anak!”

Ah, kak Hasbi ini bercanda. Usia tidak bisa membohongi. Seperempat abad sudah saya lalui. Tentunya berjibun pengalaman membangun diri saya menuju kedewasaan. Menjadi anak-anak bukanlah perkara membalikkan telapak tangan. Malam itu, pesan ahli parenting tersebut terngiang-ngiang di kepala. Agenda 22 Oktober 2017 menjadi agenda merensonansi ingatan ke masa lalu, berpetualang ke masa hidup di kala kanak-kanak.

Tinggal beberapa jam lagi menuju Hari Mengajar, petualangan imajinasi saya sudah sampai di gerbang sekolah, menyapa bapak satpam dan mencium tangan ibu guru. Kemudian saya memasuki kelas dan bernyanyi dengan riang. Begitu sederhana, polos, dan penuh keceriaan. Setiap orang memang punya kenangan masing-masing. Kenangan ini memudahkan saya menghayati masa kanak-kanak.

Tibalah hari yang dinanti-nanti, Hari Mengajar yang berlangsung pada tanggal 23 Oktober 2017. Serentak, kegiatan ini dilakukan di 51 kota/kabupaten di seluruh Indonesia. Padang, salah satu kota tempat penyelenggaraan Kemenkeu Mengajar 2, mendapatkan kesempatan pertama karena tahun sebelumnya Kemenkeu Mengajar hanya diselenggarakan di 6 kota. Tahun ini, SD Komplek Tan Malaka yang terdiri dari SD 01, SD 05, dan SD 33 Tan Malaka mengukir sejarah Kemenkeu Mengajar di kota Padang.

Kegiatan di senin pagi diawali dengan upacara bendera. Langkah kaki serempak, petugas pengibaran bendera menghentak-hentak lapangan upacara. Siswi yang di tengah itu, di tangannya ada bendera, di hatinya ada cita-cita. Pengibaran bendera diiringi paduan alat musik, harmoni.

Usai upacara, Pejabat Kementerian Keuangan Provinsi Sumatera Barat memberikan sambutan. Panitia bersama relawan mengajak para guru dan murid-murid untuk melakukan Baby Shark Dance. Usai bergoyang bersama, panitia menginstruksikan untuk membuat formasi KM 2 yang akan disorot dari udara. Setelah acara pembukaan selesai, murid-murid memasuki ruang kelas masing-masing.

“Assalamu’alaikum, selamat pagi, anak-anak!” suara saya menggema di ruangan.

“Wa’alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh, selamat pagi, Bu! Suara murid-murid tak kalah menggema, bahkan menjawab salamnya lebih panjang.

Kesan pertama harus mencuri perhatian. Dengan wajah antusias dan penuh semangat, saya mengajak murid-murid untuk bernyanyi “Di Sini Senang, Di Sana Senang”. Untuk menyanyikan lagu ini, saya membagi murid-murid menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama menyanyi sambil bertepuk tangan, kelompok kedua menyanyi sambil menjentikkan jari, dan kelompok ketiga bernyanyi sambil menghentakkan kaki ke lantai. Suatu kelompok bernyanyi hanya ketika tangan saya menunjuk kelompok tersebut. Jika tangan saya terbuka lebar, artinya semua bernyanyi.

Selanjutnya, saya memperkenalkan diri dan ingin pula mengenal mereka. Saya meminta murid-murid menunjuk dengan jarinya berturut-turut mulai dari ketua kelas, sekretaris, dan bendahara, semua dilakukan tanpa suara. Mereka terlihat tersenyum-senyum. Senyuman mereka bahan bakar semangat saya.

Setelah murid-murid siap, saya pun memulai sesi materi. Peralatan tempur yang sudah disiapkan saya letakkan di atas meja. Ada gambar Malin Kundang, gambar Ibu Pertiwi Indonesia, puzzle, dan pengeras suara portable. Sesi pertama dimulai dengan dialog Malin Kundang dengan Ibu Pertiwi Indonesia. Saya menggunakan metode bercerita dengan gambar. Dalam cerita tersebut, Ibu Pertiwi Indonesia sangat menyayangi anaknya, Malin Kundang. Semua fasilitas diberikan untuk sang anak, antara lain sarana jalan umum, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan keamanan. Ketika Malin Kundang dewasa, ia pergi merantau ke negeri seberang. Sampai di sini saya meminta anak-anak menyanyikan lagu “Kampuang Nan Jauah di Mato”, diiringi musik dari pengeras suara portable, untuk memanggil Malin Kundang pulang.

Cerita berlanjut, Malin Kundang pulang dan ia sudah menjadi orang kaya. Menjadi kaya tak lantas membuatnya membalas budi kepada sang ibu yang telah membesarkan dan memberikannya segala kebutuhannya di masa kecil. Untuk itu, saya meminta anak-anak mengajak Malin Kundang untuk patuh kepada ibunya, memberikan sebagian rezeki yang diperoleh dari penghasilannya. Dari sebagian rezeki yang diberikan oleh Malin Kundang kepada ibunya, murid-murid saya minta untuk membangun fasilitas umum melalui penyusunan puzzle perkelompok.

Kelas ditutup dengan menyanyikan lagu Ibu Pertiwi bersama-sama. Sebelum mengakhiri dengan salam, tak lupa saya menyampaikan pesan dari Menteri Keuangan, Ibu Sri Mulyani Indrawati, “Jangan pernah lelah mencintai Indonesia”. Sebelum mengakhiri tulisan ini, tak lupa pula saya menyampaikan pesan untuk pembaca semua, “Yuk, ikut Kemenkeu Mengajar 3!”

Sabtu, 07 Oktober 2017

Belajar Bersyukur

Sudah lewat Isya, api diskusi belum juga padam. Berbagai macam pemikiran bergumul, melahirkan pandangan dari berbagai sisi. Perihal negara memang tidak mudah. Sesekali mata berair menahan uap kantuk. Acap kali mata menatap ke arah jarum jam di tembok itu. Semoga waktu cepat berlalu, mengingat lembur yang juga tidak menambah uang saku.

Hingga akhirnya diskusi ini berujung kesimpulan. Para pegawai berhambur keluar ruangan. Ada istri yang ditunggui suaminya, ada ibu yang harus segera meninabobokkan balitanya, ada jejaka yang harus pulang ke kosan. Beberapa langkah dari gerbang kantor, tampak seorang lelaki tua dan seorang anak perempuan kecil sedang duduk berdua. Keduanya berpakaian lusuh dan compang-camping. Disampingnya ada gerobak berisikan sampah yang bisa didaur ulang atau dijual. Sang ayah memperdengarkan sebuah cerita kepada putrinya sehingga gadis kecil itu tertawa. Raut wajah bahagia tampak pada keduanya.

Perlahan seorang anak muda mendekati pak tua itu dan memberikannya selembar kertas bergambar Soekarno Hatta. Pak tua kemudian menatap dalam anak muda itu sembari mengucapkan terima kasih dengan menundukkan kepalanya sembari berdoa. Gadis kecil pun segera mengucapkan terima kasih, seakan sudah biasa dan terdidik mengucapkan kata itu setiap menerima kebaikan. Anak muda berlalu, namun tatapan pak tua kepadanya tak berpaling meskipun sudah tampak punggungnya saja. 

Semakin jauh langkah kaki si anak muda, semakin jauh perenungannya. Uap kantuk tak lagi dirasakan, justru air yang menguap dari sudut mata. Ada sesuatu yang ditahan-tahan. Benarkah kebahagiaan yang tengah mengukir raut wajah pak tua dan gadis kecil itu? Ternyata rasa syukur yang mengukir bahagia. Rasa syukur yang selalu membuat hati lapang.

Perihal negara memang tidak mudah. Namun malam itu menjadi peletakan batu pertama bagi sang anak muda untuk membangun benteng semangat, agar bekerja segiat-giatnya, dengan program yang sebaik-baiknya. Rasa syukur menjadi adukan semen supaya benteng itu kokoh. Dalam hatinya mengucapkan terima kasih kepada pak tua dan gadis kecil yang telah memberinya pelajaran berharga.

Jumat, 06 Oktober 2017

Naik Kereta Api Malang - Yogyakarta



foto oleh Mega Mutia Elza

Stasiun Malang Kotabaru Jumat malam itu disesaki oleh calon penumpang kereta api jurusan Yogyakarta. Saya perlahan-lahan menolehkan wajah ke kiri dan ke kanan, menyapukan pandangan. Kesendirian ini memberikan saya kesempatan untuk memperhatikan banyak hal, mulai dari segerombolan remaja yang saling menertawakan, dua sejoli yang sedang kasmaran, sampai yang seperti saya, sendirian.

Tak lama, kereta api yang ditunggu-tunggu pun tiba. Saya memasuki gerbong ekonomi. Ya, gerbong ekonomi! Saya tidak memiliki pilihan lain saat memesan di waktu yang mepet. Di gerbong ini, seorang penumpang harus duduk bersebelahan tanpa sekat dengan penumpang lainnya, belum lagi di depannya juga ada penumpang lain yang lututnya nyaris menyentuh lutut kita. 

Seorang pria duduk di sebelah saya, mengisi kursi yang telah ia sewa dengan harga Rp175 ribu untuk 7,5 jam ke depan. Beruntungnya, di depan kami belum ada penumpang yang naik sehingga bisa menselonjorkan kaki. Ia membuka percakapan dengan memperkenalkan diri, ternyata kami seumuran. Tidak butuh waktu lama untuk membuat kami akrab. Sepertinya kesendirian juga tidak abadi. Kerongkongan sampai kering saking cerita ini tidak ada habisnya.

Sesekali saya menoleh ke jendela, memperhatikan laju kereta api yang semakin kencang. Di depan mata, stasiun berganti jalan raya, kemudian berganti perumahan, dan berganti rerumputan. Syahdu sekali memandang ke luar meskipun minim cahaya.

Di sebuah stasiun persinggahan, dua penumpang-baru duduk di depan kami. Kaki yang selonjoran ditarik ke arah kolong kursi. Lutut ditekuk agar tidak beradu. Saya mencoba memejamkan mata meski tidak tidur. Mendekati Stasiun Tugu terdengar dentuman musik yang tak asing di telinga, Yogyakarta-nya Kla Project. “Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu”. Aah, meskipun perjalanan pertama ini tidak bisa disebut pulang, namun rindu memanggil saya datang.