Siapa yang tidak familiar dengan lagu "Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan". Liriknya yang sarat akan makna tersirat, membuat banyak pendengar berusaha menebak-nebak. Lihat saja di mesin pencarian itu, berapa banyak laman untuk menerjemahkan lagu yang teduh ini.
"Hanya ada sedikit bintang malam ini, mungkin karena kau sedang cantik-cantik nya".
Hanya ada satu kata, meleleh. Dengar, kan? Pesonamu, menerangi semesta. Gombal yang berkelas.
"Lho, kok gitu maknanya?"
"Suka-suka saya donk! Saya mungkin salah satu penyumbang laman di mesin pencarian itu, wekk!"
Balik lagi ke lirik, secara tak sengaja saya menonton video wawancara dengan Bang Is. Ternyata inspirasi lagu ini bersumber dari istri dan anaknya, yang saat itu tengah tertidur pulas, dengan mulut menganga. Cantik!
😎
Jumat, 11 Agustus 2017
Sabtu, 05 Agustus 2017
Cerita Anak Rantau yang Kehilangan Ayah
“Semoga anakku yang pemberani,
yang jauh merantau ke negeri-negeri
igauan
menemukan jalan untuk pulang;
pun jika aku sudah lapuk dan karatan.
Tapi tubuh sudah begitu jauh mengembara.
Kalaupun sekali datang hanya
untuk menabung luka.
Dan ketika akhirnya pulang ia
sudah mayat tinggal rangka.”
Joko Pinurbo
Pagi ini saya dibangunkan oleh kabar duka dari seorang teman, 22
tahun, yang baru saja kehilangan ayahnya.
Kemarin lusa ia sudah mendarat di kampung halamannya, sebuah kota di
Jawa Timur, untuk melihat sang ayah yang sedang terbaring lemah. Menempuh 2
(dua) kali perjalanan dengan pesawat terbang ditambah jalan darat, ia mendampingi ayahnya di deru nafas terakhir, denyut nadi
penutupan.
Lain cerita dengan teman saya
yang satunya lagi, kala itu 24 tahun. Dengan pedih, jarak hanya mampu
mempertemukannya dengan sekumpulan orang-orang yang sedang yasinan, karena ia tiba keesokan harinya setelah sang ayah
dikebumikan. Kepada jenazah ayahnya yang tak pernah ia lihat, ia hanya bisa
memanjatkan doa.
Anak rantau, kalian kuat! Negara
memang tak membayar lebih untuk jarak. Tapi pengabdian kalian sudah sampai
tahap memahami, bahwa rindu tak selalu bermuara kata pulang. Perjuangan kalian
di sini, akan membuat sang ayah bangga di sana.
Jumat, 14 Juli 2017
Seroja oh Seroja
Seroja oh Seroja. Kita bercerita, diskusi apa saja. Saking asyiknya, lupa sudah lewat senja. Ah, waktu, terasa cepat sekali saat bersama dia yang dipuja.
Seroja oh Seroja. Seperti bunga indah nan hidup di pinggir Sungai Nil itu, siapa pula tak jatuh cinta melihatnya? Ah, andai aku teratai di sampingmu. Akan ku jaga dirimu biar tak ada yang mengganggu.
Seroja oh Seroja. Seperti bunga indah nan hidup di pinggir Sungai Nil itu, siapa pula tak jatuh cinta melihatnya? Ah, andai aku teratai di sampingmu. Akan ku jaga dirimu biar tak ada yang mengganggu.
Langganan:
Postingan (Atom)