Blue Fire Pointer AIRPLANE IN THE SKY

Sabtu, 05 Agustus 2017

Cerita Anak Rantau yang Kehilangan Ayah


“Semoga anakku yang pemberani,
yang jauh merantau ke negeri-negeri igauan
menemukan jalan untuk pulang;
pun jika aku sudah lapuk dan karatan.
Tapi tubuh  sudah begitu jauh mengembara.
Kalaupun sekali datang hanya untuk menabung luka.
Dan ketika akhirnya pulang ia sudah mayat tinggal rangka.”
Joko Pinurbo

Pagi ini saya dibangunkan oleh kabar duka dari seorang teman, 22 tahun, yang baru saja kehilangan ayahnya.  Kemarin lusa ia sudah mendarat di kampung halamannya, sebuah kota di Jawa Timur, untuk melihat sang ayah yang sedang terbaring lemah. Menempuh 2 (dua) kali perjalanan dengan pesawat terbang ditambah jalan darat, ia mendampingi ayahnya di deru nafas terakhir, denyut nadi penutupan.

Lain cerita dengan teman saya yang satunya lagi, kala itu 24 tahun. Dengan pedih, jarak hanya mampu mempertemukannya dengan sekumpulan orang-orang yang sedang yasinan, karena ia tiba keesokan harinya setelah sang ayah dikebumikan. Kepada jenazah ayahnya yang tak pernah ia lihat, ia hanya bisa memanjatkan doa.

Anak rantau, kalian kuat! Negara memang tak membayar lebih untuk jarak. Tapi pengabdian kalian sudah sampai tahap memahami, bahwa rindu tak selalu bermuara kata pulang. Perjuangan kalian di sini, akan membuat sang ayah bangga di sana.  

Jumat, 14 Juli 2017

Seroja oh Seroja

Seroja oh Seroja. Kita bercerita, diskusi apa saja. Saking asyiknya, lupa sudah lewat senja. Ah, waktu, terasa cepat sekali saat bersama dia yang dipuja.

Seroja oh Seroja. Seperti bunga indah nan hidup di pinggir Sungai Nil itu, siapa pula tak jatuh cinta melihatnya? Ah, andai aku teratai di sampingmu. Akan ku jaga dirimu biar tak ada yang mengganggu.

Kamis, 29 Juni 2017

Rindu dan Jarak



                “Aduh sayang, jarak itu sebenarnya tak pernah ada. Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan.” _Joko Pinurbo
               
                Ah, bisa saja penyair itu menghiburku, juga dirimu yang selalu mengulangi kata-kata itu. Tetap saja Selat Karimata menjadi saksi betapa tiga ribu km bukanlah jarak yang dapat ditoleransi untuk menahan rindu. Memang benar bahwa syair hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang menghayati.

Cepatlah pulang! Batas kota ini siap mengucap tabik. Debu dan kerikil jalanan siap menari.  Baru aku membuka pintu, yakinlah perasaan yang bertumpuk ini melebur berlarian mengejar ke arahmu, merengkuhmu lebih dahulu.

Kamu yang di pulau seberang, ketahuilah bahwa mendoakanmu merupakan aktivitas utamaku selepas sholat. Tidak ada perih yang lebih tersembunyi dari pada airmata yang jatuh di atas sejadah. Tidak ada obat yang lebih manjur selain menerima dengan ikhlas. Semesta berkisah, bahwa ia juga bisa memberikan kejutan. Ada rencana-Nya yang lebih baik, yang tidak terduga-duga.


Tulisan ini saya persembahkan untuk teman-teman yang LDM Sumatera-Kalimantan.