Blue Fire Pointer AIRPLANE IN THE SKY

Selasa, 17 Mei 2016

Tanya Jawab seputar Visa Korea Selatan dengan Dini Wahyuni




Tanya jawab:
1
Apa pekerjaan Anda? Pegawai negeri sipil di Komisi Yudisial Republik Indonesia
2
Mengapa Anda memilih mengurus Visa sendiri? yang pertama, mengurus visa dengan travel agent biayanya lebih mahal, 2x lipat dibanding mengurus sendiri. Yang kedua, karena pengen tau bagaimana proses dari visa diajukan sampai visa diterima. mengurus dengan travel agent pun ga ada bedanya, mereka cuma bertugas mengantar dan mengambil visa. Syarat2nya tetap dibebankan semua ke kita. Jadi saya ingin total aja, soalnya dari awal sudah ngurus persiapannya sendiri, ribet2nya sendiri, masa cuma ngantr visa doang pake agent? Jadi saya putuskan untuk sendiri aja walaupun konsekuensinya harus telat masuk kantor. Haha
3
Apa saja dokumen yang diperlukan dalam pengurusan Visa? Syaratnya bisa dilihat di website kedutaan korea. Yaitu paspor asli, fotokopi paspor halaman pertama dan cap negara2 yg pernah dikunjungi, fotokopi KK, surat keterangan kerja, bukti keuangan (rekening koran 3 bulan terakhir dan referensi bank/SPT Tahunan OP/slip gaji 3 bulan terakhir, dll), saya juga melampirkan fotokopi ID card, fcotokopi KTP, NPWP dan ijazah S1 Saya. Untuk fotokopi booking tiket pesawat, hotel, dan itinerary ga usah karena punya saya juga dikembalikan oleh petugas loket.
4
Berapa biaya yang dikeluarkan untuk permohonan Visa? Biaya dibayarkan saat permohonan atau setelah Visa diterbitkan? Biayanya Rp.560.000; diberikan setelah pengecekan dokumen oleh petugas di loket
5
Apakah Anda melakukan editing pada pas foto? Edit tingkat kecerahannya saja, dan perlu diingat untuk pembuatan visa, komposisi wajah 70-75%. Jadi walhasil foto saya cuma muka doang yg keliatan.
6
Bagaimana cara mengurus surat referensi bank? Datang ke cs bank tempat buka rekening, minta tolong buatkan surat referensi bank. Kalau saya di bank kantor aja. Biayanya 100k
7
Berapa saldo tabungan Anda yang tertera pada rekening koran? Saldo terkahir saya saat mengajukan 17jt lebih sedikit. Memang ga ada saldo minimal yang disyaratkan untuk dapat pengajuan visa, cuma setidaknya nominalnya masuk akal untuk selama tinggal di korea
8
Apakah tiket perjalanan, bukti penginapan, dan itinerary diperlukan? Ga perlu, udah di jawab di poin 3
9
Pukul berapa Kedutaan Besar Korea Selatan memulai jam operasional untuk permohonan Visa? jam 8.30; tapi karena saya seneng memulai sesuatu di pagi hari ya. Saya dari rumah jam 6.30, sampai kedutaan jam 6.50; gate nya belum dibuka, jadi bisa nunggu di depan gatenya kok.
10
Bagaimana prosedur permohonan Visa di Kedutaan Besar Korea Selatan? Ketika 8.30 gate dibuka, langsung masuk trus ambil nomer antrian, setelah itu nunggu dipanggil. saat dipanggil usahakan berkas2nya sudah diurutkan sesuai dengan point2 yang ada di website, jadi langsung diserahkan sama petugasnya. Saran saya ga usah dimasukin map, ribet buka-bukanya ntar.
11
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pemrosesan Visa sejak permohonan diterima? 5 hari kerja. Saya mengajukan senen, jumat sudah jadi.
tapi sebelumnya telpon dulu buat memastikan visa sudah bisa diambil atau belum.
Nomer telpon dan nomer resi diberikan di kwitansi pembayaran visa
12
Apakah Anda memiliki kekhawatiran akan tidak dikabulkannya permohonan? Mengapa?
Kekhawatiran pasti ada ya. Cuma berusaha tetap optimis aja
Saya khawatir di rekening koran sih, bukan karna nominalnya, tapi saya ngeprint rek. Koran awal januari-awal maret. Kalau dihitung jumlah hari kan cuma 60 hari. Jadi saya rada deg2an juga kalau 3 bulan itu saklek 90 hari. Alhamdulillah kekhawatiran saya tidak terbukti, visa saya approved di jumat sore.

Berikut adalah persyaratan pengurusan Visa yang sudah dipersiapkan:

No
Dokumen
1
Passpor Asli
2
Fotokopi Passpor
3
Formulir aplikasi
4
Foto berwarna 3.5x4.5  (2 lembar)
5
Fotokopi Kartu Keluarga
6
Surat Keterangan Kerja
7
Fotokopi Bukti Keuangan, Pilih Salah Satu:

a.   Fotokopi SPT Tahunan OP

b.  Rekening Koran 3 bulan terakhir dan Surat Referensi Bank

c.   Fotokopi Slip Gaji 3 bulan terakhir
8
Fotokopi e-Ticket
9
Fotokopi e-Accomodation
10
Itinerary selama di korea
11
ID Card
12
Fotokopi Akta kelahiran
13
Fotokopi NPWP dan KTP
14
Fotokopi Ijazah S1


Minggu, 27 Maret 2016

Bullied di Masa Kecil Dori

gambar via republika.co.id

 *Setting tahun 1997

Teeettt… Bel sekolah berbunyi pertanda jam sekolah SDN 1 Meulaboh, Daerah Istimewa Aceh (sebelum menjadi Nanggro Aceh Darussalam) telah usai. Dori, seorang anak kecil berkepang dua masih duduk di ruang kelas sampai seisi kelas berhamburan pulang. Raut wajahnya datar, namun tatapannya nanar. Tak berapa lama, sang ayah datang menjemput putri kecilnya pulang. Ayah menggandeng tangan Dori, kemudian mendapati perpaduan warna hijau kebiruan di tangan anak sulungnya itu.

“Nak, ini kenapa tangannya biru-biru?” tanya ayah.
“Tak mengapa, tadi jatuh,” ujar Dori khas kebohongan anak kecil.

Hari demi hari, ketika ayah menjemput Dori pulang, memar di tangan Dori bertambah satu demi satu.  Naluri seorang ayah berkata bahwa sang anak telah diisengi oleh teman sepermainannya.

“Nak, jujur saja, kenapa setiap hari memarnya bertambah?” tanya ayah.
“Dicubit teman sebangku, Yah,” jawab Dori sambil menahan air mata yang hampir melompat keluar water line.

Saat itu juga ayah mengadukan peristiwa tersebut kepada wali kelas. Keesokan harinya, wali kelas bertanya kepada murid-murid.

“Anak-anak, di kelas ini adakah yang memukul atau mencubit Dori?” tanya wali kelas.

Seisi kelas sunyi dan penuh gelengan kepala bocah ingusan.

“Dori, kamu berbohong? Lain kali kamu tidak boleh berbohong kepada orang tua dan guru ya!” ceramah wali kelas kepada Dori dengan sedikit marah.
“Baik, Bu,” jawab Dori.
“Dori, yang kemaren-kemaren maaf ya,” ujar teman sebangku Dori dengan senyuman.

Sebuah senyuman, yang tentunya bagi Dori tetap menakutkan. Pulang sekolah kali ini ada yang berbeda, teman sebangku Dori tidak mencubit tangannya lagi. Ada hikmahnya juga dimarahi guru.

Beberapa bulan kemudian, ayah Dori mutasi ke kota salak di Sumatera Utara. Dori turut serta pindah. Dalam hati Dori bertekad tidak akan menjadi korban kekerasan lagi. Peribahasa “lain lubuk lain ikannya” memang benar adanya. Di kota baru ini, Dori tidak lagi dipukul dan dicubit, melainkannnn dibentak beramai-ramai oleh sekelompok anak yang hits dan gaul pada zamannya. Beberapa siswa-yang-memakai-seragam-sendiri-saja-belum-bisa tersebut setiap harinya memercikkan api permusuhan kepada Dori. Tetapi Dori tetap saja tenang, berwajah datar, dan menganggap seakan-akan tidak ada masalah hidup. Walaupun tegar, psikologis Dori sebenarnya terguncang.

Jauh sebelum kosa kata bullying begitu terkenal seperti sekarang, kekerasan fisik dan psikis sudah terjadi sedari dulu. Ketahanan diri anak dalam menghadapi hal ini bermacam-macam. Ada yang trauma, stres, tenang, atau sampai melampiaskannya dengan mem-bully orang lain. Dori tidak sendirian, masih banyak anak-anak yang bernasib sama bahkan lebih buruk. Terkadang anak yang suka membully bukanlah anak yang berhati jahat. Ia hanya menjadi follower apa yang lingkungannya biasa lakukan. Di balik perannya sebagai pelaku bully, ia merupakan bocah lugu yang belum sempurna akalnya. Peran orang tua sangatlah penting dalam mengawasi anaknya. Keterbukaan antara anak dan orang tua menjadi mutlak. Stop Bullying!