Blue Fire Pointer AIRPLANE IN THE SKY

Jumat, 10 Juli 2015

Sebaik-Baiknya Wanita Sholat di Rumah atau Mesjid?

sumber gambar bharatmonuments.com

Sabda Rasulullah SAW:
 “Solat di kamarmu lebih utama daripada shalat di rumahmu. Solat di rumahmu lebih utama daripada solat di masjid kaummu” (Hadis Riwayat Ibnu Khuzaimah);
"Jangan kamu menegah kaum wanita ke masjid-masjid, dan (solat mereka di) rumah-rumah mereka adalah lebih baik". (Hadis Riwayat Abu Daud, Kitabus Solah).

            Menurut Muslimah, M.Ag, pemateri ceramah pagi (10/7/2015) di Kanwil DJP Sumatera Barat dan Jambi, untuk memaknai suatu hadis jangan hanya melihat dari segi tekstual, tetapi juga pertimbangan sejarah. Pada saat hadis tersebut disabdakan oleh Rasulullah SAW, keberadaan wanita di luar rumah dalam kondisi tidak aman. Saat itu wanita harus menutupi tubuhnya kecuali hanya mata yang dapat dinampakkan. Maka untuk melindungi kaum wanita, keluarlah hadis bahwa wanita sebaiknya sholat di rumah.

Selain itu, pada masa tersebut, semangat beribadah umat Islam sangat menggebu-gebu. Jika adzan Subuh pukul 05.00, maka pukul 04.00 jamaah sudah tiba. Jika semua penduduk bepergian ke mesjid maka tidak ada lagi yang menjaga rumah dan anak-anak di rumah. Untuk itu hadis tersebut juga dimaksudkan untuk meredam gebu semangat tersebut.


Solat berjamaah menjadi lebih utama karena mendapat bonus pahala 27 derajat. Namun dengan berbagai pertimbangan, tentunya seorang wanita dapat memilih apakah lebih baik solat di mesjid atau di rumah. Jika merasa lebih tentram dan khusuk di mesjid, maka solatlah di mesjid. Namun jika merasa lebih aman di rumah, maka solatlah di rumah. Dalam beribadah hendaknya jangan diniatkan sekedar mencari pahala, melainkan memprioritaskan untuk mendapat keridhoan Allah SWT. 

Sabtu, 16 Mei 2015

Si Gadis dan Hijabnya


Seorang “Gadis” dengan rambut sebahu, selalu menata poni lurus tepat dibawah alis. Rambut tebalnya selalu ia pamerkan kepada terik mentari maupun sinar rembulan. Ketika hujan, helaian rambutnya basah kuyup seperti habis keramas. Setelah memakai helm, rambutnya melentik keluar bekas cetakan helm.

Suatu hari tanggal 5 Maret 2013, ia kedatangan tamu, seseorang yang tak asing. Anes, ialah sahabatnya di kampus yang sama-sama memiliki rambut sebahu. Sama-sama berencana untuk menyembunyikan rambutnya dibalik hijab setelah menikah. Ada sesuatu yang berbeda dari penampilan Anes pagi ini. Ada untaian kain dari atas kepalanya sampai ke dada. Ada apa gerangan? Apakah si Anes ini habis takziah. Ternyata tidak! Tak ada angin tak ada hujan, Anes bercerita bahwa hidup ini hanya sementara. Terlebih Anes dan si Gadis punya hobi yang sama, ngebut di jalanan. Maka akhlak tak akan sempurna jika seorang wanita masih menampakkan rambutnya.

Si Gadis tanpa berpikir panjang, langsung mengajak Anes ke pasar untuk membeli sebuah hijab. Hijab berwarna abu-abu keunguan menjadi pilihan. Seketika si Gadis mengamati wajahnya melalui kaca spion motor dan mengamati wajah sahabatnya yang kini telah berhijab. Sungguh tidak disangka Anes yang tomboy dan suka menggulung-gulung rambutnya ala Korea telah membuka hati untuk berhijab.

Keesokan harinya tanggal 6 Maret 2013, dengan perasaan berkecamuk, si Gadis memberanikan diri untuk mengenakan hijab tersebut ke kampus. Ia duduk di barak kampus. Beberapa teman wanita memeluknya dan mengucapkan selamat. Sementara teman-teman pria hanya bisa berteriak “Subhanallah! Alhamdulillah”. Khalayak ramai bersepakat bahwa si Gadis semakin cantik.

Namun dengan tampilan barunya itu, si Gadis justru merasa aneh. Ia bahkan tidak berani berjalan sendirian di lorong kampus, selalu minta ditemani dengan kepala yang terus menunduk. Ia merasa sedang melakoni peran dalam sebuah drama. Ia merasa rindu untuk menjadi dirinya yang semula.

Dengan rambutnya yang telah dibungkus, si Gadis tak bisa lagi mengibas-ngibas rambutnya di depan umum ala iklan sampo anti ketombe. Tidak ada lagi yang namanya belah tengah atau belah samping. Tidak ada lagi yang namanya menggunting poni seperti Dora. Entahlah, si Gadis merasa tingkat kemanisan wajahnya berkurang dan mulai pudar. Memang benar, berhijab di waktu muda membuat sebagian kecantikan tersembunyi. Karena jika wanita berhijab itu cantik, yang lebih memancar adalah aura kecantikan akhlak dan karakternya dari dalam. Seperti badai yang telah berlalu, si Gadis perlahan merasakan perasaan yang teramat damai bersama hijabnya. Semakin lama ia mulai bisa menegakkan kepalanya, menikmati warna-warni di kepalanya.