Blue Fire Pointer AIRPLANE IN THE SKY

Senin, 04 Mei 2015

Presiden Canangkan Tahun 2015 sebagai Tahun Pembinaan Wajib Pajak

(sumber foto: antara news)

(Oleh Direktorat P2 Humas Direktorat Jenderal Pajak)

(Rabu, 29/4), Presiden Joko Widodo mencanangkan Tahun 2015 sebagai “Tahun Pembinaan Wajib Pajak” di Istana Negara. Dalam sambutannya Presiden Joko Widodo menjelaskan bahwa maksud dari pembinaan adalah memberikan kesadaran kepada Wajib Pajak agar patuh membayar pajak.

"Wajib Pajak diberitahu agar ada kepatuhan, kesadaran jangan sampai justru dikejar-kejar dan nabrak-nabrak takut semua," kata Presiden Joko Widodo.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro melaporkan bahwa dari 250 juta penduduk Indonesia, seharusnya yang mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak sebanyak 44 juta, tapi kenyataannya hanya 26 juta penduduk saja yang ber- NPWP dan hanya 10 juta wajib pajak yang melaporkan pajaknya melalui Surat Pemberitahuan (SPT).

“Wajib Pajak Badan yang terdaftar 1,2 juta perusahaan, namun hanya sekitar 550 ribu saja yang menyampaikan SPT-nya”, tambah Bambang.

Dengan moto “Reach the Unreachable, Touch the Untouchable”, Tahun Pembinaan Wajib Pajak 2015 ditujukan pada kelompok Wajib Pajak terdaftar yang telah menyampaikan SPT maupun yang belum menyampaikan SPT, serta kelompok orang pribadi atau badan yang belum terdaftar sebagai Wajib Pajak.

Selama Tahun Pembinaan Wajib Pajak 2015, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak memberikan kesempatan seluas-luasnya dan mendorong Wajib Pajak untuk mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP, menyampaikan SPT, membetulkan SPT serta melakukan pembayaran pajak. Ditjen Pajak akan menghapus sanksi administrasi berupa bunga dan denda atas keterlambatan pembayaran dan pelaporan pajak-nya.

Untuk mendukung pelaksanaan Tahun Pembinaan Wajib Pajak ini, pemerintah segera menerbitkan payung hukum berupa Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi Sebagai Akibat dari Keterlambatan Penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT), Pembetulan SPT, dan Keterlambatan Pembayaran atau Penyetoran Pajak.

Pencanangan Tahun 2015 sebagai Tahun Pembinaan Wajib Pajak merupakan bagian dari strategi pengamanan target penerimaan 2015 sebesar Rp 1,295 triliun yang meliputi intensifikasi dan ekstensifikasi berdasarkan data pihak ketiga, antara lain data dari PPATK, OJK, BI, BPN, Kementerian dan Lembaga.

Tampak hadir di acara tersebut Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil, Menteri Sosial Khofifah Indarparawansa, Menteri Koordinator Kemaritiman Indroyono Soesilo, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Pardamen Laoly, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo dan jajaran Kementerian Keuangan, Direktorat Jenderal Pajak serta kementerian lembaga terkait.


Acara hari pencanangan Tahun Pembinaan Wajib Pajak hari itu ditandai dengan pemukulan gong oleh Presiden Joko Widodo. Sementara di Kantor Pusat Ditjen Pajak pun telah terpasang giant banner tentang Tahun Pembinaan Wajib Pajak tersebut.

Sabtu, 04 April 2015

Monolog: Gadis di Pangkuan Bulan (Ending)



http://cdn.ar.com/images/stories/2011/07/hilal-blue.jpg
Singgasana di Bulan? via http://cdn.ar.com

Cerita sebelumnya:
Akkkhhh, sakit sekali? Aku dimana? Mengapa kepala dan tanganku diperban? Mengapa ruangan ini begitu putih? Dan…….. disampingku ada sang gadis di pangkuan Bulan.
(selengkapnya http://febbymellisa.blogspot.com/2015/02/monolog-gadis-di-pangkuan-bulan.html )

Fiuuhh Cuma mimpi. Tragis sekali kecelakaan dalam mimpi itu. Seakan tak percaya, aku pun bergegas menuju cermin untuk memastikan kepalaku baik-baik saja. Ternyata memang benar baik-baik saja, hanya ada bekas luka kecil. Gilang, Gilang, ada-ada saja. Malam yang selalu setia padaku, kini memberiku mimpi buruk. Tapi itu tak lantas membuatku berpaling dari kecintaanku pada malam.

Hari ini hari libur. Kusempatkan diri untuk ke toko buku untuk menambah koleksi novel fiksi favoritku. Setibanya di toko buku, aku menyisir setiap rak demi rak siapa tahu ada novel fiksi terbaru yang bisa menjadi teman minum kopi di akhir pekan. Penyisiranku terhenti pada sebuah rak di tengah ruangan, di mana di situ terkumpul novel-novel fiksi best seller.

“Gadis di Pangkuan Bulan”, judul novel tersebut. Heiii, aku seperti orang yang dimabuk cinta. Apakah mataku salah mengirim sinyal ke otak sehingga sebuah buku bisa memiliki judul seperti ini? Atau jangan-jangan ada pria lain yang mengabadikan gadis pujaanku dalam sebuah novel? Kupejamkan mata dan kubuka kembali. Olala, masih dengan judul yang sama. Hmm, baiklah, rasa penasaranku memerintahkan untuk membeli novel ganjil itu.

Sesampainya di rumah, kubuka plastik segel yang melekat pada novel itu dan segera membaca  halaman pertama.
Teruntuk seorang gadis yang membawa hatiku pergi dan tak mengembalikannya lagi. Ketahuilah bahwa aku rela kau ambil hatiku.  Kuharap dirimu menemamiku sampai tutup usiaku. Meskipun pada akhirnya dirikulah yang menemanimu sampai ruhmu pamit. Kumohon Bulan jadilah singgasana untuk Bidadariku.” –Gilang-

Lupa Bahagia?

http://cdn.klimg.com/kapanlagi.com/g/2012/11/13/agnes_monica_jumpa_pers_simpati_dance_with_agnes_the_ritz_carlton_pacific_place_scbd_jakarta_13_november_2012_2-20121113-002-bambang.jpg
Tertawa lepas via kapanlagi.com

Masih ingatkah dirimu kapan terakhir kali tertawa lepas? Sebuah tawa yang lahir dari hati. Bukan sekedar menciptakan jarak 45° di sudut bibir.

Tidakkah dirimu iri melihat anak kecil yang dengan mudahnya tertawa? Bahkan dengan sebuah “cilukba” saja bisa membuat pekik tawanya menggelegar.

Apakah dirimu merasa kebingungan dengan hidup yang sedang dijalani? Tidak tahu mengapa kamu harus berada di tempat ini. Selalu bertanya-tanya mengapa kamu harus melakukan pekerjaan ini. Gelimangan Rupiah yang kamu terima setiap bulannya hanya terasa seperti kumpulan kertas ajaib yang bisa mencukupi kebutuhan jasmanimu.

Orang-orang menganggapmu sukses dengan rutinitasmu sekarang. Namun kamu justru merasa kemilaumu di masa kuliah mulai pudar. Transkrip nilaimu yang bertaburan nilai A, dirimu yang selalu bisa menyajikan jawaban terbaik saat dosen bertanya, kini hanya tinggal kenangan manis. Tinggallah dirimu yang "bukan siapa-siapa". Menjalani aktivitas hanya sekenanya. Tujuan hidupmu berubah 180° sehingga membuatmu harus menata ulang kembali hidupmu.

Waktu terus berjalan. Tentu saja kamu tak boleh membiarkan kebingungan ini terus-menerus membayangimu. Kamu punya keluarga yang sangat bangga padamu. Jika panjang umur, kamu punya sekitar 30 tahun waktu produktif untuk berkarya dan membuktikan eksistensimu. Hidup ini memang pilihan, meskipun memaksakan pada pilihan yang terbatas. Tidak sia-sia Tuhan menitipkanmu. Suatu saat nanti kamu akan sangat bersyukur dengan jalan hidup ini.

Jika rasa bosan mengetuk-ngetuk pintu semangatmu, biarkan ia masuk agar kamu tahu apa yang harus kamu lakukan untuk menyuruhnya pergi. Berikut tips-tips untuk mengusir rasa jenuh:
1.    Menggeluti hobi, terserah apapun asal tidak merugikan. Setiap akhir pekan kamu berenang, menulis cerpen, atau menekuni hobi musikmu.
2.   Menjadi sosialita, tentunya disesuaikan dengan budget. Setelah menerima gaji, kamu bisa melengkapi koleksi branded make up mu atau berpikir untuk mencicil mobil baru.
3.   Berwisata dalam negeri. Indonesia terdiri dari belasan ribu pulau. Rugi rasanya melewatkan menjelajah situs-situs indah yang bisa membuat kita semakin bangga dengan negara tercinta.
4.    Bikin passport, belahan dunia mana yang ingin kamu intip dan kamu jamahi? Hehe.
5.    Lihatlah ke bawah. Ribuan orang rela bertaruh memperebutkan posisimu. Jutaan orang masih berpikir hari ini bisa makan atau tidak. Bahkan kamu bisa saksikan orang-orang yang membungkukkan dirinya dengan tangan menengadah, mengiba kepada setiap orang yang berlalu lalang. Maka bersyukurlah, perbanyaklah memberi. Rezeki mereka ada pada diri kita.

Jangan lupa bahagia guys! Tertawa lepas itu milik kita :)