Sabtu, 15 Maret 2014
Minggu, 02 Maret 2014
INDUCTION PROGRAMME PEGAWAI BARU KEMENKEU, PERJALANAN KEJAR TAYANG
Hampir sebulan kami mengabdi di rumah baru kami,
Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Malam yang hening, tiba-tiba kesunyian pecah
karena telepon dari kak Eghy membuatku terkejut. Seketika aku mengirim pesan
line ke Jessica.
“Bawa
baju putih dan celana dasar hitam 1 pasang, baju tidur 1, dan baju kemeja biasa
1. Besok kita ke Jakarta!”
Jessica yang tengah tertidur lelap pun
meneleponku lewat line (nyari gratisan).
“Bik,
apa maksud line kamu?” tanya Jessica bingung.
“Buka
SIKKA, ada pengumuman mendadak kita lusa jam 7.30 pagi udah ada di Dhanapala.”
“Hah,
kok gituuuu siiihhhhhh?????”
Demikianlah, sebuah pengumuman penting
diberitahukan mendadak. Kami harus siap ibarat prajurit siap tempur kapanpun,
asik! Melalui situs SIKKA yang hanya bisa dibuka oleh pegawai DJP, kami
mendapat undangan mengikuti Induction
Programme Pegawai Baru Kementerian Keuangan yang akan dilaksanakan pada
tanggal 12 Februari 2014. Kami panik masalah tiket pesawat yang dipesan dadakan
pasti mahal, belum lagi masalah penginapan. Apalagi uang tunggu bulanan kami belum
keluar, alamak! Berbekal lembaran kertas pengumuman yang kami print, kami menghadap ke Pak Mujtahid
selaku kasi kepegawaian di Kanwil DJP Sumbar dan Jambi. Kami pun disuruh
menghadap ke Pak Zaeni, Kabid Umum, untuk membicarakan masalah biaya. Walhasil kami
diberi kemudahan, kami diberi uang saku sementara. Tiket pesawat bahkan
dipesankan oleh kantor. Sebelum Zuhur, kami berpamitan kepada pegawai-pegawai.
Nasihat pak Rendi, kakanwil pun mengantar
kepergian kami.
“Pak
supir tolong antar mereka ke bandara! Kalian hati-hati di sana ya. Nanti
menginap di Hotel Oasis. Salam buat orang tua y,” ujar beliau.
Pukul 15.00 aku dan Nova memulai perjalanan ke
bandara diantar supir kantor. Sedang kak Eghy diantar suaminya (duuhh so
sweet). Setiba di bandara, kami makan di CFC tanpa Jessica karena wanita
berwajah oriental ini belum tiba juga di bandara.
Pukul 17.45 Sriwijaya memboyong kami menghempaskan
sayap dan tiba di Jakarta pukul 19.30. Kami pun segera menuju AW dan makan
lagiii. Teman-teman dari Kantor Pelayanan Pajak di Sumatera Barat, Jambi, Riau,
Kepri beberapa menanyakan akan menginap di mana. Satu suara sepakat kami
menginap di Hotel N2, separuh harga dari Hotel Oasis. Dari Bandara kami menaiki
Damri sampai ke Stasiun Gambir, dari Stasiun Gambir kami menaiki taxi.
Esok harinya setelah sarapan di hotel kami
bergegas jalan kaki menuju Gedung Dhanapala dengan durasi perjalanan 10 menit.
Nah di sanalah untuk pertama kalinya kami bertemu Pak Chatib Basri, Menteri
Keuangan. Beliau menyampaikan bahwa pada rekrutmen
tahun 2013, dari 121.922 pelamar, hanya 1476 peserta yang berkesempatan menjadi
CPNS Kementerian Keuangan. Aku pun bertemu dengan pegawai baru Kementerian
Keuangan se-Indonesia, juga dengan Cici, kawan sekelasku waktu kuliah yang
lulus di Inspektorat Jenderal. Cipika cipiki mengawali pertemuan kami, hehehe. Usai
acara, kami yang dari daerah-daerah dari Sabang sampai Merauke mengumpulkan
SPPD dan Surat Tugas untuk ditandatangani panitia. Surat ini sebagai dasar kami
mendapatkan uang perjalanan dinas.
Tanggal 13 Februari
pukul 11.30 aku, Jessica, kak Eghy, dan Nova pulang menaiki pesawat Garuda dan
bertemu Puteri Indonesia, Wulandari Herman. Waaaahh padahal pengen foto bareng
nih. Tapi niat tanpa pelaksanaan hanya berujung dengan menatap sang Puteri yang
notabene duduk di depan kak Eghy. Sesampainya di Bandara Internasional
Minangkabau kami dijemput oleh Pak Ir, sang supir.
Daann kami kembali ke
kantor.
“Gimana Induction Programme nya?” Tanya Pak Kakanwil
yang kemudian kami jawab masing-masing. Nova menjawab tentang tantangan yang
akan dihadapi generasi muda Kemenkeu ke depannya. Aku menjelaskan tentang
perubahan kiblat perekonomian dari AS ke
arah Asia 30 tahun ke depan. Jessica menjawab dalam bahasa Inggris tentang apa
itu induction programme serta dalam
bahasa Indonesia tentang transformasi kelembagaan. Di penutup kak Eghy
menjelaskan tentang pendapatan domestik bruto.
Minggu, 19 Januari 2014
Kanwil DJP Sumbar dan Jambi, New Chapter of My Life (I)
Fiuh, akhirnya saya lega juga setelah
tau penempatan magang di Kanwil DJP Sumbar dan Jambi yang berlokasi di Padang.
Artinya, kembali ke kampung halaman. Beberapa teman lain yang
ditempatkan di beberapa kabupaten yang jauh dari Padang. Tapi inilah
konsekuensi calon abdi negara yang siap ditempatkan di manapun juga. Semangat
DJP 2014!
Di kantor ini saya dipertemukan
dengan Jessica Winda Prima (Jessica) dari Akuntansi Unand 2009, kak Eka
Maharani Agusti (Eghy) dari Hukum Unand 2003, dan Nova Sari Yudistia (Nova)
dari Sistem Informatika UPI 2009. Pertemuan yang unik dikarenakan kecocokan
kami. Saya dan Jessica bertubuh lebih tinggi dari pada kak Eghy dan Nova. Saya dan kak Eghy memakai jilbab sedangkan Jessica dan Nova tidak
memakai jilbab. Saya dan kak Eghy setiap makan siang selalu memesan teh es
manis sedangkan Jessica dan Nova lebih menyukai air putih.
Kami memiliki latar dan kemampuan
yang beragam. Pertama, Jessica, ia adalah penerima beasiswa Djarum dan pernah
mengikuti simulasi sidang PBB di Harvad, waw! Ia pernah “menghilang” dari
Padang selama 6 bulan untuk berkeliling dunia ke Vietnam, Swiss, Perancis, dll.
Jessica juga pernah dinobatkan sebagai Uni Sawah Lunto. Kedua, kak Eghy, wanita
bertubuh kecil dan awet muda ini ternyata berumur 27 tahun dan sudah mempunyai
seorang anak balita. Ia sempat bekerja di BPS sebelumnya. Pada tahun 2010 ia
pernah melamar di Kementerian Keuangan namun gagal di wawancara akhir. Hal itu
tidak membuatnya menyerah dan mencoba lagi tahun 2013. Doanya dijabah. Seorang
ibu yang hebat! Ketiga Nova, ia merupakan lulusan terbaik di kampusnya dan
sudah beberapa kali ke Malaysia sebagai hadiah dari kampus atas prestasinya
itu. Keren! Sembari kuliah, ia aktif mengajar les matematika dan fisika. Banyak
hal yang menginspirasi dari diri mereka keluarga baru saya di DJP, namun tak
bisa saya ceritakan di sini.
Hari pertama orientasi, aku dan
Jessica memakai baju putih dan celana hitam. Rupanya di DJP tidak ada perbedaan
pakaian antara anak magang dengan pegawainya. Hari Rabu memakai baju seragam
DJP yaitu baju biru laut dan celana dongker. Kami pun diperkenalkan dengan
seluruh pegawai DJP di kantor ini. Pak Muj lah orang pertama yang kami kenal di
sini karena beliau yang mengonsep masa orientasi. Awalnya kami lebih banyak
duduk, sesekali mengetik Daftar Penilaian PNS DJP oleh pegawai yang meminta
tolong. Saya cukup merasa bosan dan mengantuk.
DJP itu serba disiplin dan semua jadwal
tertata rapi. Masuk pukul 07.30 jika terlambat akan dikenakan sanksi potong tunjangan. Pulang pukul 17.00 tapi sangat jarang pegawai pulang tepat pukul 17.00.
kenanyakan pulang hampir magrib bahkan malam. Kami lah anak magang yang pulang
paling cepat.
Hari kedua orientasi, mulai terasa
semangat karena kami mendapat nasihat dari kabag umum bahwa kami adalah
orang-orang yang beruntung. Beliau selalu menekankan untuk mengambil S2 ke luar
negeri. Ternyata banyak sekali beasiswa untuk PNS DJP ke UI, UGM, maupun
universitas di Jepang, Kanada, Perancis, Malaysia, Australia, Korea Selatan,
dll. Saya dengan bahasa Inggris pas-pasan pun makin semangat mengingat
kelulusan saya tes S2 UI yang tidak jadi saya ambil :-(
Di hari kedua, kami diperkenalkan
dengan SIKKA semacam portal yang memuat seluruh informasi baik CV, cuti, penilaian,
pelanggaran yang telah kita lakukan, pegawai yang ultah, kegiatan, info
beasiswa, info diklat, dsb. Canggih sekali DJP ini bahkan di kantor DJP dengan
intranet kita bisa belajar pajak gratis. Bejibun informasi perpajakan beserta
update aturan terbaru ada di sana.
Di hari ketiga, kami di masukkan ke
dalam kelas, seperti kuliah, ada pengajarnya. Kami diberi materi tentang
organisasi di Kementerian Keuangan oleh Pak Verizal. Beliau berpesan “Jangan
sampai anda tidak mengenal siapa diri anda di sini.” Ya, saya memang sempat
kehilangan jati diri begitu diterima di DJP. Bukan karena tak bersyukur. Tapi 4
tahun selama kuliah saya bermimpi menjadi hakim. Namun pendaratan saya di DJP
membuat saya tidak menyesali nasib saya sekarang, Tak apa tak menjadi hakim,
yang penting nilai-nilai kejujuran dan profesionalitas tetap di dada. Awalnya
terasa hampa, namun makin ke sini saya semakin tahu mengapa saya berada di
sini. Inilah jalan Tuhan.
Langganan:
Postingan (Atom)

