Blue Fire Pointer AIRPLANE IN THE SKY

Minggu, 02 Maret 2014

INDUCTION PROGRAMME PEGAWAI BARU KEMENKEU, PERJALANAN KEJAR TAYANG



Hampir sebulan kami mengabdi di rumah baru kami, Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Malam yang hening, tiba-tiba kesunyian pecah karena telepon dari kak Eghy membuatku terkejut. Seketika aku mengirim pesan line ke Jessica.
“Bawa baju putih dan celana dasar hitam 1 pasang, baju tidur 1, dan baju kemeja biasa 1. Besok kita ke Jakarta!”

          Jessica yang tengah tertidur lelap pun meneleponku lewat line (nyari gratisan).
“Bik, apa maksud line kamu?” tanya Jessica bingung.
“Buka SIKKA, ada pengumuman mendadak kita lusa jam 7.30 pagi udah ada di Dhanapala.”
“Hah, kok gituuuu siiihhhhhh?????”

          Demikianlah, sebuah pengumuman penting diberitahukan mendadak. Kami harus siap ibarat prajurit siap tempur kapanpun, asik! Melalui situs SIKKA yang hanya bisa dibuka oleh pegawai DJP, kami mendapat undangan mengikuti Induction Programme Pegawai Baru Kementerian Keuangan yang akan dilaksanakan pada tanggal 12 Februari 2014. Kami panik masalah tiket pesawat yang dipesan dadakan pasti mahal, belum lagi masalah penginapan. Apalagi uang tunggu bulanan kami belum keluar, alamak! Berbekal lembaran kertas pengumuman yang kami print, kami menghadap ke Pak Mujtahid selaku kasi kepegawaian di Kanwil DJP Sumbar dan Jambi. Kami pun disuruh menghadap ke Pak Zaeni, Kabid Umum, untuk membicarakan masalah biaya. Walhasil kami diberi kemudahan, kami diberi uang saku sementara. Tiket pesawat bahkan dipesankan oleh kantor. Sebelum Zuhur, kami berpamitan kepada pegawai-pegawai.

Nasihat pak Rendi, kakanwil pun mengantar kepergian kami.
“Pak supir tolong antar mereka ke bandara! Kalian hati-hati di sana ya. Nanti menginap di Hotel Oasis. Salam buat orang tua y,” ujar beliau.

Pukul 15.00 aku dan Nova memulai perjalanan ke bandara diantar supir kantor. Sedang kak Eghy diantar suaminya (duuhh so sweet). Setiba di bandara, kami makan di CFC tanpa Jessica karena wanita berwajah oriental ini belum tiba juga di bandara.

Pukul 17.45 Sriwijaya memboyong kami menghempaskan sayap dan tiba di Jakarta pukul 19.30. Kami pun segera menuju AW dan makan lagiii. Teman-teman dari Kantor Pelayanan Pajak di Sumatera Barat, Jambi, Riau, Kepri beberapa menanyakan akan menginap di mana. Satu suara sepakat kami menginap di Hotel N2, separuh harga dari Hotel Oasis. Dari Bandara kami menaiki Damri sampai ke Stasiun Gambir, dari Stasiun Gambir kami menaiki taxi.

Esok harinya setelah sarapan di hotel kami bergegas jalan kaki menuju Gedung Dhanapala dengan durasi perjalanan 10 menit. Nah di sanalah untuk pertama kalinya kami bertemu Pak Chatib Basri, Menteri Keuangan. Beliau menyampaikan bahwa pada rekrutmen tahun 2013, dari 121.922 pelamar, hanya 1476 peserta yang berkesempatan menjadi CPNS Kementerian Keuangan. Aku pun bertemu dengan pegawai baru Kementerian Keuangan se-Indonesia, juga dengan Cici, kawan sekelasku waktu kuliah yang lulus di Inspektorat Jenderal. Cipika cipiki mengawali pertemuan kami, hehehe. Usai acara, kami yang dari daerah-daerah dari Sabang sampai Merauke mengumpulkan SPPD dan Surat Tugas untuk ditandatangani panitia. Surat ini sebagai dasar kami mendapatkan uang perjalanan dinas.

Tanggal 13 Februari pukul 11.30 aku, Jessica, kak Eghy, dan Nova pulang menaiki pesawat Garuda dan bertemu Puteri Indonesia, Wulandari Herman. Waaaahh padahal pengen foto bareng nih. Tapi niat tanpa pelaksanaan hanya berujung dengan menatap sang Puteri yang notabene duduk di depan kak Eghy. Sesampainya di Bandara Internasional Minangkabau kami dijemput oleh Pak Ir, sang supir.

Daann kami kembali ke kantor.
“Gimana Induction Programme nya?” Tanya Pak Kakanwil yang kemudian kami jawab masing-masing. Nova menjawab tentang tantangan yang akan dihadapi generasi muda Kemenkeu ke depannya. Aku menjelaskan tentang perubahan kiblat perekonomian  dari AS ke arah Asia 30 tahun ke depan. Jessica menjawab dalam bahasa Inggris tentang apa itu induction programme serta dalam bahasa Indonesia tentang transformasi kelembagaan. Di penutup kak Eghy menjelaskan tentang pendapatan domestik bruto.

      

Minggu, 19 Januari 2014

Kanwil DJP Sumbar dan Jambi, New Chapter of My Life (I)




Fiuh, akhirnya saya lega juga setelah tau penempatan magang di Kanwil DJP Sumbar dan Jambi yang berlokasi di Padang. Artinya, kembali ke kampung halaman. Beberapa teman lain yang ditempatkan di beberapa kabupaten yang jauh dari Padang. Tapi inilah konsekuensi calon abdi negara yang siap ditempatkan di manapun juga. Semangat DJP 2014!

Di kantor ini saya dipertemukan dengan Jessica Winda Prima (Jessica) dari Akuntansi Unand 2009, kak Eka Maharani Agusti (Eghy) dari Hukum Unand 2003, dan Nova Sari Yudistia (Nova) dari Sistem Informatika UPI 2009. Pertemuan yang unik dikarenakan kecocokan kami. Saya dan Jessica bertubuh lebih tinggi dari pada kak Eghy dan Nova. Saya dan kak Eghy memakai jilbab sedangkan Jessica dan Nova tidak memakai jilbab. Saya dan kak Eghy setiap makan siang selalu memesan teh es manis sedangkan Jessica dan Nova lebih menyukai air putih.

Kami memiliki latar dan kemampuan yang beragam. Pertama, Jessica, ia adalah penerima beasiswa Djarum dan pernah mengikuti simulasi sidang PBB di Harvad, waw! Ia pernah “menghilang” dari Padang selama 6 bulan untuk berkeliling dunia ke Vietnam, Swiss, Perancis, dll. Jessica juga pernah dinobatkan sebagai Uni Sawah Lunto. Kedua, kak Eghy, wanita bertubuh kecil dan awet muda ini ternyata berumur 27 tahun dan sudah mempunyai seorang anak balita. Ia sempat bekerja di BPS sebelumnya. Pada tahun 2010 ia pernah melamar di Kementerian Keuangan namun gagal di wawancara akhir. Hal itu tidak membuatnya menyerah dan mencoba lagi tahun 2013. Doanya dijabah. Seorang ibu yang hebat! Ketiga Nova, ia merupakan lulusan terbaik di kampusnya dan sudah beberapa kali ke Malaysia sebagai hadiah dari kampus atas prestasinya itu. Keren! Sembari kuliah, ia aktif mengajar les matematika dan fisika. Banyak hal yang menginspirasi dari diri mereka keluarga baru saya di DJP, namun tak bisa saya ceritakan di sini.

Hari pertama orientasi, aku dan Jessica memakai baju putih dan celana hitam. Rupanya di DJP tidak ada perbedaan pakaian antara anak magang dengan pegawainya. Hari Rabu memakai baju seragam DJP yaitu baju biru laut dan celana dongker. Kami pun diperkenalkan dengan seluruh pegawai DJP di kantor ini. Pak Muj lah orang pertama yang kami kenal di sini karena beliau yang mengonsep masa orientasi. Awalnya kami lebih banyak duduk, sesekali mengetik Daftar Penilaian PNS DJP oleh pegawai yang meminta tolong. Saya cukup merasa bosan dan mengantuk.

DJP itu serba disiplin dan semua jadwal tertata rapi. Masuk pukul 07.30 jika terlambat akan dikenakan sanksi potong tunjangan. Pulang pukul 17.00 tapi sangat jarang pegawai pulang tepat pukul 17.00. kenanyakan pulang hampir magrib bahkan malam. Kami lah anak magang yang pulang paling cepat.

Hari kedua orientasi, mulai terasa semangat karena kami mendapat nasihat dari kabag umum bahwa kami adalah orang-orang yang beruntung. Beliau selalu menekankan untuk mengambil S2 ke luar negeri. Ternyata banyak sekali beasiswa untuk PNS DJP ke UI, UGM, maupun universitas di Jepang, Kanada, Perancis, Malaysia, Australia, Korea Selatan, dll. Saya dengan bahasa Inggris pas-pasan pun makin semangat mengingat kelulusan saya tes S2 UI yang tidak jadi saya ambil :-(

Di hari kedua, kami diperkenalkan dengan SIKKA semacam portal yang memuat seluruh informasi baik CV, cuti, penilaian, pelanggaran yang telah kita lakukan, pegawai yang ultah, kegiatan, info beasiswa, info diklat, dsb. Canggih sekali DJP ini bahkan di kantor DJP dengan intranet kita bisa belajar pajak gratis. Bejibun informasi perpajakan beserta update aturan terbaru ada di sana.

Di hari ketiga, kami di masukkan ke dalam kelas, seperti kuliah, ada pengajarnya. Kami diberi materi tentang organisasi di Kementerian Keuangan oleh Pak Verizal. Beliau berpesan “Jangan sampai anda tidak mengenal siapa diri anda di sini.” Ya, saya memang sempat kehilangan jati diri begitu diterima di DJP. Bukan karena tak bersyukur. Tapi 4 tahun selama kuliah saya bermimpi menjadi hakim. Namun pendaratan saya di DJP membuat saya tidak menyesali nasib saya sekarang, Tak apa tak menjadi hakim, yang penting nilai-nilai kejujuran dan profesionalitas tetap di dada. Awalnya terasa hampa, namun makin ke sini saya semakin tahu mengapa saya berada di sini. Inilah jalan Tuhan.